MISTERI TERSERANG PENYAKIT ANEH

    Seingat saya, selama hidup saya hingga saat ini, saya pernah mengalami sakit parah sebanyak lima kali.  Sakit parah yang saya alami pertama kali terjadi ketika saya masih duduk di kelas 4 SD.  Pada waktu saya masih kecil, saya suka sekali dengan kegiatan panjat-memanjat.  Dengan tubuh kecil dan kerempeng, saya begitu lincah memanjat.  Seperti layaknya seekor kera yang tidak takut ketinggian, dan juga tidak takut terjatuh.

   Ayah saya pada waktu masih muda, berprofesi sebagai seorang petani.  Menggarap sawah jatah transmigrasi, dan juga sambil bekerja sebagai tukang kayu.  Pada waktu itu kebanyakan rumah dibangun dari kayu.  Pada waktu ayah saya mengerjakan rumah, saya ikut sibuk.  Memanjati bangunan rumah hingga ke bubungan atap.  Kalau ingat akan hal itu, saya sangat ngeri sekali.  Tetapi anehnya pada waktu itu saya tidak mempunyai rasa takut sama sekali.

  Pada suatu hari sekitar jam sembilan pagi, saya bermain bersama teman-teman tetangga.  Barangkali karena ingin dilihat oleh teman-teman, saya pun pamer, dan melakukan pemanjatan bangunan dapur rumah kami yang sudah tidak dipakai lagi.  Dan saya berjalan-jalan di atas atap bangunan dapur itu.  Karena bangunan ini sudah tua dan rapuh, maka bangunan dapur itu roboh.

   Saya tertimpa tiang dapur.  Anehnya saya tidak merasakan apa-apa.  Saya bangkit, dan berjalan beberapa langkah, akan tetapi tiba-tiba punggung saya sulit digerakkan, dan saya hanya bisa melihat kabut tipis meyelimuti tubuh saya.   Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi.  Eh ternyata saya pingsin.  Setelah diurut, saya pulih seperti biasa.  Dan tidak ada patah tulang, atau tulang retak.

  Padahal salah satu teman saya yang berada di bawah, dan tertimpa bangunan ada yang patah kaki.  Akan tetapi alhamdulillah orang tua anak itu, tidak menuntut apa-apa dengan pihak kami.  Mungkin karena saya masih kecil.

   Sakit parah yang terakhir saya alami, yaitu ketika saya KKN di daerah sekitar Danau Ranau.  Pada waktu itu, ada orang yang telah berpesan kepada saya, agar jangan  berujar yang tidak sopan ketika berada di Danau Ranau.  Entah karena lupa, saya dengan spontan berujar, "Oo seperti ini to Danau Ranau itu, kotor dan semerawut." 

   Begitu saya sampai di rumah penginapan khusus untuk Mahasiswa KKN, saya sakit demam tinggi, dan mencret-mencret.  Kebetulan juga rumah yang kami tumpangi berdua, sesama peserta KKN, merupakan rumah panggung, yang sudah lama kosong ditinggalkan pemiliknya. 

   Pada malam hari, saya merasakan hidung saya ditusuk-tusuk dengan selang hingga tembus ke dada. Saya merasakan sakit yang luar biasa, sekaligus nyeri sekali.  Ini sungguh penyakit yang aneh.  Bisa jadi penyakit yang saya alami ini, karena berkata tidak sopan ketika berada di Danau Ranau, atau mungkin juga karena rumah yang saya tumpangi ini yang angker.

   Untunglah saya dan teman saya hanya dua hari menempati rumah itu.  Setelah itu saya menumpang di rumah Bapak Kepala Desa.  Dan saya pun sembuh dengan sendirinya.  Tentu saja setelah saya meminum obat dari teman KKN  dari Fakultas Kedokteran.

   Kedua kejadian yang telah saya alami itu, bukanlah kejadian yang aneh.  Masih ada tiga kejadian penyakit aneh yang saya alami dalam kurun waktu 3 tahun, yaitu ketika saya duduk di kelas 3 SMP, kelas 1 SMA dan kelas 2 SMA.  Saya katakan mengalami penyakit aneh, karena ketiga penyakit yang saya alami 3 tahun berturut-turut itu, terjadi pada hari yang sama, yaitu Hari Jumat Wage.  Sesudah itu, diiringi dengan adanya seorang tetangga yang meninggal dunia.  Dan setelah itu saya berangsur-angsur sembuh.

   Sampai-sampai saya berpikir, jangan-jangan malaikat mau mencabut nyawa saya, akan tetapi salah cabut.  Sehingga nyawa orang tetangga yang dicabut, dan orangnya meninggal dunia.  Atau sebaliknya, nyawa orang tetangga yang mau dicabut, tapi nyasar ke saya.  Karena salah cabut, akhirnya nyawa saya dikembalikan lagi.

  Pada waktu kelas 3 SMP, saya memang sudah direncanakan untuk bisa sekolah ke kota.  Kebetulan ada kerabat di kota yang bersedia menampung saya untuk tinggal di rumahnya sekaligus saya disekolahkan.  Karena tahun ini adalah tahun terakhir bisa berkumpul dengan ayah, maka ayah saya meminta saya untuk melakukan tirakat.  Dengan tujuan agar saya tidak diganggu oleh makhluk halus.

   Tirakat yang saya lakukan adalah puasa mutih selama 6 hari.  Puasa mutih adalah puasa tapi boleh makan dan minum, akan tetapi hanya boleh memakan makanan yang putih saja, seperti nasi dan ubi.  Tidak boleh memakan bumbu-bumbuan seperti gula, garam, teh, kopi dan lain sebagainya.  Puasa ini harus dijalani pada siang hari, maupun pada malam harinya.

   Pada hari pertama puasa, saya jalani dengan tenang-tenang saja, seperti layaknya orang tidak berpuasa.  Toh masih bisa minum air putih dan makan nasi.  Dan kalau bosan makan nasi, bisa diselingi dengan memakan ubi.  Di hari kedua, masih saya jalani biasa-biasa saja.

   Barulah pada hari ketiga, saya sudah merasakan betapa beratnya puasa mutih itu.  Padahal masih ada 3 hari lagi.  Begitu melihat nasi dan ubi, rasanya saya ingin muntah.  Walaupun saya paksakan, tetapi hanya beberapa suap saja yang mampu masuk ke mulut saya.

   Dengan tekad yang kuat akhirnya saya mampu menyelesaikan puasa mutih selama 6 hari.  Lalu ayah  meminta saya untuk melanjutkan dengan puasa ngebleng selama satu hari.  Puasa ngebleng adalah puasa tidak boleh makan, tidak boleh minum, dan tidak boleh tidur selama 24 jam, dimulai dari waktu maghrib hingga waktu maghrib hari berikutnya.

   Ternyata saya pun berhasil menjalaninya, padahal selama saya menjalani puasa mutih selama 6 hari itu, asupan makanan yang masuk ke dalam perut saya sangatlah minin sekali. Ditambah lagi pada hari ketujuh saya tidak makan apa-apa.  Akhirnya sekitar jam 4 sore menjelang berbuka puasa, mata saya sudah tidak berfungsi lagi.  Saya tidak bisa melihat apa-apa, dan saya pun mengalami deman tinggi.

  Dan bertepatan dengan kejadian itu, teman saya yang tempo hari patah kaki karena ulah saya memanjat bangunan dapur tua, meninggal dunia.  Setelah waktu maghrib tiba, dan saya sudah bisa berbuka puasa, maka kesehatan saya pun pulih seperti semula.  Kejadian itu terjadi pada Hari Jumat Wage.

   Di kelas 1 SMA, saya sudah tinggal di kota jauh dari orang tua.  Pada waktu itu malam Jumat Wage, tiba-tiba saya mengalami sakit yang aneh.  Mirip sekali dengan yang saya alami ketika saya mengalami sakit aneh di kelas 3 SMP.  Tubuh saya demam tingggi, mata kabur, dan mulut ngoceh-ngoceh sendiri tidak terkendali.  Sampai-sampai seisi rumah ketakutan.  Malam itu juga saya langsung dibawa ke rumah sakit.  Bahkan saya sampai dironsen segala.

   Anehnya, dokter tidak menemukan penyakit apa-apa.  Saya dibawa pulang ke rumah, dan di rumah tetangga kami, terlihat ramai orang-orang berkumpul.  Ternyata seorang nenek tetangga sebelah rumah kami, meninggal dunia.  Keesokan harinya, saya pun sehat seperti sedia kala.

  Kejadian yang saya alami di Kelas 2 SMA, hampir mirip seperti kejadian sebelumnya.  Pada Hari Jumat Wage, pada pagi hari, saya sakit demam tinggi, disertai mata kabur, dan saya ngoceh-ngoceh sendiri.  Bertepatan dengan itu, ada seorang tetangga yang meninggal dunia.  Akhirnya saya pun baru dibawa ke dokter pada sore harinya.  Akan tetapi pada saat saya dibawa ke dokter, saya sudah agak lumayan sehat.

  Itulah cerita misteri terserang penyakit aneh.  Saya katakan aneh karena semuanya terjadi pada hari yang sama, yaitu hari Jumat Wage.  Dan saya mengalami demam tinggi dan mata kabur, bertepatan dengan adanya kejadian salah seorang tetangga meninggal dunia.

  Pelajaran yang bisa kita petik dari cerita misteri kali ini adalah bahwa kesehatan itu sangatlah penting.  Kesehatan tubuh kita sangat dipengaruhi oleh pola makan kita, dan juga pola pikir kita.  Makanan dengan gizi yang cukup akan mampu menjaga kesehatan tubuh kita.  Pikiran juga bisa membuat tubuh kita tetap sehat, yaitu pikiran yang positif dengan cara berpikir positif.  

   Jauhkan pikiran kita dari rasa iri, dengki, hasut, tamak, ambisius, oportunis, sombong, dan lain sebaginya.  Pikiran yang jernih akan membuat hidup kita menjadi sehat dan bahagia.  Sesungguhnya ciri orang yang bersyukur adalah orang-orang yang dapat menjalani hidupnya dengan penuh kebahagiaan.

    Ditulis oleh Wagiran pada Malam Sabtu Kliwon tanggal 29 mei 2021

   


Komentar